Detailartikel terkait contoh soal perhitungan biaya makanan awetan dari bahan hewani. Biaya bahan baku adalah biaya yang dikeluarkan dalam membeli bahan. Contoh Soal Perhitungan Biaya Makanan Awetan Dari Bahan Biaya yang harus dihitung adalah biaya investasi, biaya tetap (listrik, air, penyusutan alat/gedung, dll), serta biaya tidak tetap (bahan baku, tenaga kerja dan overhead).bahan baku
HasilKegiatan Usaha Makanan Awetan dari Bahan Nabati. pintarilmu September 28, 2019. Berbagai jenis makanan awetan dari bahan nabati sudah dijelaskan, baik oleh guru maupun oleh teman-temannya, melalui persentasi tugas yang disampaikan di depan kelas. Diharapkan, kamu sudah mendapatkan gambaran yang baik tentang wirausaha produk ini.
AssalamualaikumWR. WB.Kami dari kelompok 5 X MIPA 5. Beranggotakan 5 Anggota :1) Mayahusna Fatimah 2) Eko Subianto 3) Adrian Muldiawan 4) Amelia Azzahra 5)
Perhitunganbiaya produksi makanan awetan dari bahan nabati pada dasarnya sama dengan cara biaya produksi lainnya. Biaya yang harus dihitung adalah biaya investasi, biaya tetap (listrik, air, penyusutan alat/gedung, dll), serta biaya tidak tetap (bahan baku, tenaga kerja dan overhead).
SoalPenentuan Harga Pokok Produksi (Hpp), Harga Jual, Dan Perhitungan Laba Rugi Pengolahan Makanan Awetan Dari Bahan Pangan Nabati- Salam sobat Dinas.id, inilah rekomendasi kumpulan contoh soal-soal prakarya dan kewirausahaan kelas 10, X KD 3.4 SMA Ujian Akhir Semester (UAS), soal Ujian Tengah Semester (UTS) genap, ganjil, gasal.Tentunya sesuai kisi-kisi pertanyaan tentang penentuan Harga
MenghitungHarga Pokok Produksi (HPP) dan harga jual dari suatu produk bahan awetan Nabati.
KewirausahaanPengolahan Makanan Awetan dari Bahan Nabati. Bahan makanan yang ada di alam ini mempunyai sifat dan karakteristik yang beragam. Tetapi banyak juga kesamaan sifat yang dimilikinya, salah satunya mudah rusak. Misalnya buah mangga, sejak dipanen hanya bisa bertahan maksimum seminggu di suhu ruang, setelah itu mangga akan membusuk.
Untukmemproduksi 1 cup minuman memerlukan biaya Rp.3.000,- sehingga biaya untuk 50 cup adalah Rp. 150.000,-. Kemudian kita bisa peroleh bahwa pendapatan bersihnya adalah 200.000 - 150.000 = Rp.50.000,- Perhitungan Biaya Pada kasus ini kita ambil contoh produksi makanan awetan lidah buaya. Baca Juga :
Apabilapernah bagaimana cara menyiapkan administrasi untuk usaha tersebut. Perhitungan Biaya Makanan Awetan dari Bahan Nabati Perhitungan biaya produksi makanan awetan dari bahan nabati pada dasarnya sama dengan cara biaya produksi lainnya. Materi Kewirausahaan Dan Perencanaan Usaha Pengolahan Makanan Awetan Dari Bahan Nabati Pustaka Belajar 4 Pengalaman dari individu itu sendiri.
PerhitunganBiaya Makanan Awetan Dari Bahan Nabati pada dasarnya sama dengan cara biaya produksi lainnya. Biaya yang harus dihitung adalah biaya investasi, biaya tetap (listrik, air, penyusutan alat/gedung, dll), serta biaya tidak tetap (bahan baku, tenaga kerja dan overhead).
Perhitunganbiaya produksi makanan awetan dari bahan nabati pada dasarnya sama dengan cara biaya produksi lainnya. Biaya yang harus dihitung adalah biaya investasi, biaya tetap listrik, air, penyusutan alatgedung, dll, serta biaya tidak tetap bahan baku, tenaga kerja dan overhead.
Perhitunganbiaya produksi makanan awetan dari bahan nabati pada dasarnya sama dengan cara biaya produksi lainnya. Biaya yang harus dihitung adalah biaya investasi, biaya tetap (listrik, air, penyusutan alat/gedung, dll),serta biaya tidak tetap (bahan baku, tenaga kerja dan overhead).
Perhitunganbiaya produksi makanan awetan dari bahan nabati pada dasarnya sama dengan cara biaya produksi lainnya. Biaya yang harus dihitung adalah biaya investasi, biaya tetap (listrik, air, penyusutan alat/gedung, dan lain-lain), serta biaya tidak tetap (bahan baku, tena Posting Komentar Baca selengkapnya
padaproduksi lidah buaya ini, jumlah penerimaan bersih adalah: pendapatan bersih = penerimaan kotor - total biaya = rp2.000.000 - rp1.408.950 = rp591.050 jadi perkiraan pendapatan untuk satu kali produksi, yaitu sebanyak 500 mangkok lidah buaya, akan mendapatkan labakeuntungan sebesar rp 591.050,- lima ratus sembilan puluh satu ribu lima puluh
Proposalmakanan tradisional berbahan dasar nabati 1. Makanan awetan dari bahan nabati adalah makanan yang dibuat dari sda nabati, yang sudah melalui proses pengolahan yang tepat sesuai dan dikemas dengan baik, baik menggunakan pengawet (sesuai kriteria bpom) maupun tidak sehingga mempunyai umur simpan yang lebih panjang.
2OqNpYu. Prakarya dan Kewirausahaan 105 B. Sistem Pengolahan Makanan Awetan dari Bahan Nabati Produk makanan awetan adalah produk makanan dan minuman yang sudah mengalami proses pengolahan sehingga mempunyai keawetan yang lebih tinggi. Makanan awetan tidak identik dengan makanan yang menggunakan pengawet, karena untuk mengawetkan makanan dan minuman, banyak proses yang bisa dilakukan. Proses pengolahan dan pengemasan yang baik juga dapat mengawetkan produk makanan dan minuman. Makanan dapat dibagi menjadi makanan kering dan makanan basah. Produk makanan dapat juga dikelompokkan menjadi makanan jadi dan makanan setengah jadi. Makanan jadi adalah makanan yang dapat langsung disajikan dan dimakan. Makanan setengah jadi membutuhkan proses untuk mematangkannya sebelum siap untuk disajikan dan dimakan. Makanan kering khas daerah yang dapat langsung dimakan contohnya keripik balado dari daerah Sumatera Barat dan kuku macan dari Kalimantan Timur. Makanan kering khas daerah yang tidak dapat langsung dimakan misalnya kerupuk udang sidoarjo dan dendeng sapi aceh. Menurut bahan baku utamanya, makanan khas daerah dikelompokkan pada makanan khas daerah yang berbahan nabati dan berbahan hewani. Pada semester ini, akan dibahas makanan awetan dari bahan dasar nabati, dan semester berikutnya makanan awetan dari bahan baku hewani. • Buatlah kelompok kecil, 3-5 orang. • Diskusikan dengan kelompokmu, makanan awetan dari nabati, yang ada di sekitar daerah kamu tinggal. • Adakah modiikasi yang harus dilakukan untuk makanan tersebut? • Tempelkan gambar atau gambarkan makanan awetan dari nabati yang dipilih. • Presentasikan kepada teman sekelas. Tugas 1 Semester 1 Kelas X SMAMASMKMAK 106 Makanan awetan dari bahan nabati ialah makanan yang awet yang berasal dari bahan baku tumbuh-tumbuhan, misalnya sayur-sayuran dan buah. Makanan awetan dari bahan nabati, baik makanan atau minuman yang diproduksi di suatu daerah, merupakan identitas daerah tersebut, dan menjadi pembeda dengan daerah lainnya. Berbagai makanan awetan dari bahan nabati di berbagai daerah di Indonesia menjadi ciri khas daerah tersebut. Wirausaha di bidang ini dapat menjadi pilihan yang sangat tepat karena kita lebih banyak mengenal produk makanan awetan daerah kita daripada daerah lainnya. Cara pengolahan makanan awetan dari bahan nabati pada umumnya cukup sederhana dengan menggunakan metode dan alat yang sederhana pula. Bahan baku yang digunakan diharapkan juga adalah bahan baku lokal yang mudah didapatkan di lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh makanan awetan dari bahan nabati yang akan dipaparkan pada buku ini adalah minuman lidah buaya, untuk menjadi gambaran dan acuan dalam pembelajaran wirausaha makanan awetan dari bahan nabati. Sumber Dokumen Kemdikbud Gambar Jenis-jenis produk makanan No. Nama Makanan Jenis MakananMinuman JajananOleh-Oleh Bahan Baku 1. Tempe Makanan Kedelai 2. 3. 4. 5. 6. dst Makanan Awetan dari Bahan Baku Nabati Nama Daerah Makanan Awetan Bahan Dasar Nabati Bahan Dasar Hewani Prakarya dan Kewirausahaan 107 Produk minuman dari lidah buaya sudah mulai dikembangkan, setelah sebelumnya lidah buaya hanya dijadikan bahan baku kosmetika. Minuman lidah buaya sangat baik untuk kesehatan, mempunyai kalori yang sangat rendah 4 kal100 g gel sehingga sangat sesuai untuk program diet. Di Kalimantan Barat, lidah buaya sudah diolah dalam berbagai bentuk makanan dan minuman seperti jus, koktail, gel lidah buaya dalam sirup, selai, jeli, dodol, dan manisan. Untuk memperpanjang umur simpannya, telah dilakukan pula penelitian pembuatan tepung lidah buaya dengan penambahan bahan pengisi. Gel lidah buaya juga telah dikembangkan dalam bentuk sediaan oral sebagai minuman kesehatan yang diklaim menyegarkan dan memberikan efek mendinginkan. Secara empiris, lidah buaya digunakan sebagai obat luka bakar, panas dalam, asam urat serta afrodisiak dan malnutrisi karena kandungan asam amino dan vitaminnya. Gel lidah buaya juga memperlihatkan aktivitas antipenuaan karena mampu menghambat proses penipisan kulit dan menahan kehilangan serat elastin serta menaikkan kandungan kolagen dermis yang larut air. Membuat Daftar dan Deskripsi Makanan Awetan dari Bahan Nabati • Di daerah tempat tinggalmu, tentu ada makanan awetan yang berbahan dasar nabati. Carilah informasi melalui pengamatan, wawancara maupun dari literatur tentang makanan awetan yang ada di daerahmu. Tuliskan menjadi sebuah daftar seperti contoh tabel di atas. • Pilih salah satu dari jenis makanan awetan dari daftar tersebut yang paling disukai. Tulis dan gambarkan informasi tentang makanan tersebut pada kertas A4 dengan karakter. Tugas 2 Sumber http Gambar Minuman Lidah Buaya Semester 1 Kelas X SMAMASMKMAK 108 Lidah buaya bisa digunakan sebagai bahan baku untuk minuman dalam kemasan. Dalam bahasan ini, akan dibuat contoh dalam kemasan mangkok plastik 240 gram. Bahan yang digunakan dalam membuat minuman lidah buaya adalah lidah buaya segar, gula, asam sitrat dan penguat rasa lavor. Alat-alat yang digunakan adalah pengemas cup, pisau, talenan, baskom, panci stainless steel pengganti tangki pencampuran dan tangki pasteurisasi, kompor, illing sealing machine boleh menggunakan yang manual, seperti pada Gambar literan, timbangan, pH meter, refraktometer, dan lain-lain. Sumber Dokumen Kemendikbud Gambar Manual Cup Sealer Prakarya dan Kewirausahaan 109 Pada dasarnya, pembuatan minuman lidah buaya dalam kemasan mangkok hampir sama, yaitu melalui proses persiapan lidah buaya dan persiapan larutan sirup. Lidah buaya yang akan digunakan, diseset kulitnya, kemudian dipotong dan dicuci. Lakukan pencucian menggunakan air hangat untuk menghilangkan lendir. Jika masih tersisa lendir, bisa dilakukan perendaman dalam air kapur. Selanjutnya, potongan lidah buaya dimasukkan ke dalam kemasan. Potongan lidah buaya dan sirupnya dimasukkan ke dalam kemasan dengan perbandingan tertentu. Proses pengisian ini harus memperhatikan keseragamannya, jumlah padatan lidah buaya dan cairan sirup. Keseragaman ini sangat penting untuk pencapaian proses panas yang optimal bagi keseluruhan produk. Jika pada pengisian ini tidak baik, panas yang diterima produk dalam tiap kemasan akan berbeda. Pada proses pengisian, sirup harus dalam keadaan panas untuk menciptakan kondisi hot illing. Sumber Dokumen Kemendikbud Gambar Proses Produksi Lidah Buaya Sumber Dokumen Kemdikbud Gambar Pembuatan Sirup Semester 1 Kelas X SMAMASMKMAK 110 Kemasan yang telah terisi harus segera ditutup untuk menghindari kontaminasi. Setelah itu, dilakukan pasteurisasi pada suhu 65 o C selama 55 menit. Untuk menghindari over cooking dan memberikan shock thermal pada bakteri termoilik, produk yang telah dipasteurisasi didinginkan dengan air mengalir sampai mencapai suhu 40 o C. Sumber Dokumen Kemdikbud Gambar Pengisian dan Penutupan Sumber Dokumen Kemdikbud Gambar Proses Pasteurisasi Prakarya dan Kewirausahaan 111 Setelah dilakukan proses pendinginan, dan diangin-anginkan agar airnya kering, dilakukan pemberian label, setelah itu dikemas ke dalam karton. Kemudian, sebelum dipasarkan, dilakukan inkubasi 2-3 hari, untuk melihat kestabilan mutu produk tersebut. Pada karton, ditulis saran cara penanganan produk tersebut, yaitu harus disimpan di suhu sejuk, tidak boleh terkena sinar matahari langsung, tidak boleh langsung berhubungan dengan lantai dinding, dan batas maksimum penumpukan karton adalah 10 karton. No. Nama Makanan Daerah Jenis MakananMinuman JajananOleh-Oleh Tantangan 1. Dadih Minangkabau Minuman - Kurang Awet - Kurang variasi rasa - Kemasan kurang menarik 2. 3. 4. 5. dst Tantangan Makanan Khas Daerah Tantangan Makanan Awetan dari Bahan Nabati • Carilah informasi melalui pengamatan, wawancara maupun dari literatur tentang makanan awetan dari bahan nabati yang ada di daerahmu atau daerah lain di Nusantara. • Diskusikan dengan teman tentang sumber dan jenis bahan bakunya, jenis pengolahannya, dan tantangan yang ada saat ini. • Tuliskan data dalam bentuk tabel seperti contoh di bawah ini. • Buat presentasi yang informatif dan menarik dengan memanfaatkan Tugas 3 Semester 1 Kelas X SMAMASMKMAK 112 C. Perhitungan Biaya Makanan Awetan dari Bahan Nabati
Perhitungan biaya produksi makanan awetan berbahan dasar nabati pada dasarnya sama saja dengan cara biaya produksi lainnya. Biaya yang harus dihitung adalah biaya investasi, biaya tetap listrik, air, penyusutan alat atau gedung, dan lain-lain, serta biaya tidak tetap bahan baku, tenaga kerja dan overhead. Biaya bahan baku adalah biaya yang dikeluarkan dalam membeli bahan baku. Bahan baku dapat berupa bahan baku utama dan bahan baku tambahan, serta bahan kemasan. Biaya produksi termasuk biaya tenaga kerja. Jasa tenaga kerja ditetapkan sesuai keterampilan yang dimiliki pekerja dan sesuai kesepakatan antara pekerja dan pemilik usaha atau kesepakatan dalam kelompok kerja. Biaya produksi menentukan harga jual produk. Dalam menentukan harga jual juga harus memperhatikan modal dan biaya yang sudah dikeluarkan untuk produksi. Pengolahan produk kesehatan membutuhkan peralatan dan mesin kerja. Biaya pembelian alat-alat kerja dihitung sebagai modal kerja. Biaya modal kerja akan terbayar dengan laba yang diperoleh dari hasil penjualan. Titik impas atau Break Even Point adalah seluruh biaya modal yang telah dikeluarkan sudah kembali. Setelah mencapai titik impas, sebuah usaha akan mulai dapat menghitung keuntungan penjualan. Harga jual produk adalah sejumlah harga yang dibebankan kepada konsumen yang dihitung dari biaya produksi dan biaya lain di luar produksi seperti biaya distribusi dan promosi. Biaya produksi adalah semua biaya yang harus dikeluarkan dalam terjadinya produksi barang. Unsur biaya produksi adalah biaya tenaga kerja, biaya bahan baku dan biaya overhead. Secara umum biaya overhead dibedakan ke dalam Biaya overhead tetap, adalah biaya overhead yang jumlahnya tidak berubah meskipun jumlah produksinya berubah Biaya overhead variabel, adalah biaya overhead yang jumlahnya berubah secara proporsional bersesuaian dengan perubahan jumlah produksi. Biaya yang termasuk dalam biaya overhead adalah biaya listrik, bahan bakar minyak, dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan demi mendukung jalannya proses produksi, biaya pembelian bahan bakar minyak, benang, jarum, sabun atau pembersih untuk membersihkan bahan baku, lem serta bahan lainnya. Jumlah biaya-biaya yang dikeluarkan tersebut menjadi Harga Pokok Produksi HPP. Berikut ini adalah contoh perhitungan harga untuk minuman lidah buaya. Diasumsikan dalam satu kali proses produksi akan diproduksi 500 mangkok lidah buaya, masing-masing berisi 240 gram lidah buaya buah dan kuah. Unsur Biaya Produksi Biaya Investasi Biaya Produksi Biaya Tetap Biaya Tidak Tetap Perhitungan biaya produksi meliputi biaya investasi. Biaya tetap dan biaya tidak tetap atau variabel untuk lidah buaya dapat ditampilkan seperti di bawah ini. Ini sebagai bahan pembelajaran jika akan membuat perencanaan kewirausahaan jenis produk lainnya. 1. Investasi Alat dan Mesin Investasi alat dan mesin, adalah pembelian perlengkapan alat dan mesin produksi yang dibutuhkan untuk proses produksi. Alat dan mesin produksi yang dibeli harus sesuai dengan kapasitas produksi, dan hal teknis lainnya, seperti ketersediaan daya listrik, dan lainnya. Pada proses produksi lidah buaya, alat dan mesin yang dibutuhkan adalah sebagai berikut. Tabel Investasi Alat dan Mesin Lidah Buaya No Jenis Alat Jumlah unit dalam ribu Rp ∑ dalam ribu Rp 1 Cup sealer manual 1 2 Pisau 5 20 100 3 Talenan 5 15 75 4 Baskom plastik 5 25 125 5 Panci Stainless Steel 2 300 600 6 Kompor 1 600 600 7 Literan 2 20 40 8 Timbangan 1 200 200 9 pH Meter 1 400 400 10 Refraktometer 1 11 Alat lainnya 1 paket 200 200 Jumlah Rp Biaya Penyusutan / bulan = total investasi / umur alat = bulan 84 2. Biaya Tidak tetap Variabel Biaya tidak tetap merupakan biaya yang dikeluarkan sesuai dengan jumlah produksi. Disini biaya tidak tetap bisa berubah sesuai jumlah produksinya. Biaya tidak tetap, biasanya meliputi biaya bahan baku, bahan pembantu dan bahan kemasan. Pada proses produksi minuman lidah buaya, kebutuhan bahan baku dapat ditampilkan seperti tabel berikut. Tabel Biaya Tidak Tetap Lidah buaya No. Bahan baku Jumlah ribu Rp Harga ribu Rp 1 Lidah Buaya 100kg 4 400 2 Sirup 70 liter 5 350 3 Kemasan mangkok 525 0,3 157,5 4 Tutup mangkok 525 0,05 26,25 5 Kardus 22 2 44 6 Sendok 525 0,08 42 7 Lakban 2 10 20 Jumlah per satu kali produksi Rp Jumlah per bulan Rp 3. Biaya Tetap Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan dan jumlahnya bersifat tetap setiap bulannya, berapa banyak-pun jumlah produksinya. Biaya tetap meliputi biaya tenaga kerja, listrik atau air, gas, penyusutan alat, dan lainnya. Pada produk lidah buaya, biaya tetap yang dibutuhkan tersaji seperti pada tabel di bawah. Tabel Biaya Tetap Lidah buaya Items Jumlah dalam ribu Rp Tenaga kerja tetap 6 orang x Rp Listrik/air Gas Penyusutan Alat 84 Biaya lainnya 100 Total biaya per bulan Total biaya per hari 369,2 4. Total Biaya Total biaya adalah jumlah total atau keseluruhan dari biaya tidak tetap dan biaya tetap. Dari proses produksi lidah buaya, total biaya yang dibutuhkan adalah sebagai berikut Total biaya = Biaya variabel + Biaya tetap Total biaya = Rp + Rp Total biaya = Rp Harga Pokok Produksi HPP Harga Pokok Produksi HPP adalah harga pokok suatu produk. Jika dijual dengan harga tersebut, maka produsen tidak memperoleh keuntungan dan juga tidak memperoleh kerugian. HPP ditentukan untuk bisa menentukan harga jual. Harga jual adalah HPP yang ditambah dengan margin keuntungan yang akan diambil. Untuk produk lidah buaya ini, HPP-nya adalah Total Biaya / Jumlah produksi Rp 1. / 500 = Rp. 6. Harga Jual Harga jual adalah harga yang harus dibayarkan oleh pembeli untuk memperoleh produk tersebut. Harga jual dapat ditentukan melalui pertimbangkan HPP dan juga produk pesaing. Harga jual termasuk didalamnya harga dari pabrik dan harga konsumen. Harga dari pabrik tentu lebih murah karena saluran distribusi agen, toko, counter, dan sebagainya tentu juga harus mendapatkan keuntungan. Produk lidah buaya berkemasan mangkok ini, memiliki HPP-nya sebesar Rp dan produk pesaing dengan volume yang relatif sama dijual berkisar Rp hingga Rp Ditetapkan harga jual untuk minuman lidah buaya dari pabrik adalah Rp dengan harapan di tingkat konsumen, harganya akan berkisar Rp sampai Rp Tabel Harga jual lidah buaya No. Satuan Harga satuan dalam ribu Rp 1 Mangkok 240 gram 4 2 Karton isi 12 mangkok 48 7. Penerimaan Kotor Penerimaan kotor adalah jumlah uang penerimaan yang didapatkan oleh perusahaan, sebelum dipotong dengan total biaya. Pada produksi lidah buaya ini, jumlah penerimaan kotor pada tabel di bawah. Tabel Penerimaan Kotor Lidah Buaya Jenis Kemasan Jumlah cup Satuan Rp Total Rp Mangkok 240 g 500 Total Rp 8. Pendapatan Bersih Laba Pendapatan bersih adalah jumlah penerimaan uang yang diperoleh oleh perusahaan, setelah dipotong dengan total biaya. Pada produksi lidah buaya, jumlah penerimaan bersih meliputi Pendapatan Bersih = Penerimaan kotor – Total biaya Pendapatan Bersih = Rp – Rp Pendapatan Bersih = Rp Jadi perkiraan pendapatan dalam satu kali produksi, atau dengan jumlah 500 mangkok lidah buaya, akan mendapatkan laba atau keuntungan sebesar Rp lima ratus Sembilan puluh satu ribu lima puluh rupiah. Baca Juga 1 Teknologi Pengolahan Makanan 2 Perencanaan Usaha Pengolahan Makanan 3 Sistem Pengolahan Makanan Awetan dari Bahan Nabati 4 Perhitungan Biaya Makanan Awetan dari Bahan Nabati 5 Pemasaran Langsung Makanan Awetan dari Bahan Nabati 6 Hasil Kegiatan Usaha Makanan Awetan dari Bahan Nabati
Semester 1 Kelas X SMAMASMKMAK 112 C. Perhitungan Biaya Makanan Awetan dari Bahan Nabati Perhitungan biaya produksi makanan awetan dari bahan nabati pada dasarnya sama dengan cara biaya produksi lainnya. Biaya yang harus dihitung adalah biaya investasi, biaya tetap listrik, air, penyusutan alatgedung, dll, serta biaya tidak tetap bahan baku, tenaga kerja dan overhead. Bahan baku dapat terdiri dari bahan baku utama dan bahan baku tambahan, serta bahan kemasan Biaya bahan baku adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku. Biaya produksi termasuk biaya tenaga kerja. Jasa tenaga kerja ditetapkan sesuai keterampilan yang dimiliki pekerja dan sesuai kesepakatan antara pekerja dan pemilik usaha atau kesepakatan dalam kelompok kerja. Biaya produksi menentukan harga jual produk. Penentuan harga jual juga harus mempertimbangkan modal dan biaya yang sudah dikeluarkan untuk produksi. Pengolahan produk kesehatan membutuhkan peralatan dan mesin kerja. Biaya pembelian alat-alat kerja tersebut dihitung sebagai modal kerja. Biaya modal kerja ini akan terbayar dengan laba yang diperoleh dari hasil penjualan. Titik impas Break Even Point adalah seluruh biaya modal yang telah dikeluarkan sudah kembali. Setelah mencapat titik impas, sebuah usaha akan mulai dapat menghitung keuntungan penjualan. Harga jual produk adalah sejumlah harga yang dibebankan kepada konsumen yang dihitung dari biaya produksi dan biaya lain di luar produksi seperti biaya distribusi dan promosi. Biaya produksi adalah biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk terjadinya produksi barang. Unsur biaya produksi adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead. Secara umum biaya overhead dibedakan atas biaya overhead tetap, yaitu biaya overhead yang jumlahnya tidak berubah walaupun jumlah produksinya berubah dan biaya overhead variabel, yaitu biaya overhead yang jumlahnya berubah secara proporsional sesuai dengan perubahan jumlah produksi. Biaya yang termasuk ke dalam overhead adalah biaya listrik, bahan bakar minyak, dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan untuk mendukung proses produksi. Biaya pembelian bahan bakar minyak, sabun pembersih untuk membersihkan bahan baku, benang, jarum, lem dan bahan bahan lainnya dapat dimasukan ke dalam biaya overhead. Jumlah biaya-biaya yang dikeluarkan tersebut menjadi Harga Pokok Produksi HPP. Pada bahasan kali ini, akan dipaparkan contoh perhitungan harga untuk minuman lidah buaya. Diasumsikan dalam satu kali proses produksi akan diproduksi 500 mangkok lidah buaya, masing-masing berisi 240 gram lidah buaya buah dan kuah. Unsur Biaya Produksi a. Biaya Investasi b. Biaya Produksi • Biaya Tetap • Biaya Tidak Tetap Prakarya dan Kewirausahaan 113 Perhitungan biaya produksi meliputi biaya investasi, biaya tetap dan tidak tetap variabel untuk lidah buaya disajikan berikut ini. Hal ini untuk menjadi bahan pembelajaran jika akan membuat perencanaan kewirausaah jenis produk lainnya. 1. Investasi Alat dan Mesin Investasi alat dan mesin, yaitu pembelian perlengkapan alat dan mesin produksi yang dibutuhkan untuk proses produksi. Alat dan mesin produksi yang dibeli harus sesuai dengan kapasitas produksi, dan hal teknis lainnya, seperti ketersediaan daya listrik, dan lainnya. Pada proses produksi lidah buaya, alat dan mesin yang dibutuhkan pada Tabel 4. Tabel 1 Investasi alat dan mesin lidah buaya No. Jenis Alat Jumlah Unit dalam ribu Rp ∑ dalam ribu Rp 1 Cup sealer manual 1 2 Pisau 5 20 100 3 Talenan 5 15 75 4 Baskom plastik 5 25 125 5 Panci Stainless Steel 2 300 600 6 Kompor 1 600 600 7 Literan 2 20 40 8 Timbangan 1 200 200 9 pH Meter 1 400 400 10 Refraktometer 1 11 Alat lainnya 1 pkt 200 200 Jumlah Rp Biaya Penyusutanbulan = total investasi umur alat = bulan 84 2. Biaya Tidak tetap Variabel Biaya tidak tetap adalah biaya yang dikeluarkan sesuai dengan jumlah produksi. Jadi, sifatnya tidak tetap, bisa berubah sesuai jumlah produksinya. Biaya tidak tetap ini, biasanya meliputi biaya bahan baku, bahan pembantu dan bahan kemasan. Pada proses produksi minuman lidah buaya, kebutuhan bahan baku pada Tabel 2. Semester 1 Kelas X SMAMASMKMAK 114 Tabel 2. Biaya Tidak Tetap Lidah buaya No. Bahan baku Jumlah ribu Rp Harga ribu Rp 1 Lidah Buaya 100kg 4 400 5 Sirup 70 liter 5 350 6 Kemasan mangkok 525 0,3 157,5 7 Tutup mangkok 525 0,05 26,25 8 Kardus 22 2 44 9 Sendok 525 0,08 42 10 Lakban 2 10 20 Jumlah per satu kali produksi Rp Jumlah per bulan Rp 3. Biaya Tetap Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan yang jumlahnya tetap setiap bulannya, berapa pun jumlah produksinya. Biaya tetap meliputi biaya tenaga kerja, listrikair, gas, penyusutan alat, dan lainnya. Pada produk lidah buaya, biaya tetap yang dibutuhkan tersaji pada Tabel 3. Tabel 3. Biaya Tetap Lidah buaya Items Jumlah dalam ribu Rp Tenaga kerja tetap 6 orang x Rp Listrikair Gas Penyusutan alat 84 Biaya lainnya 100 Total biaya per bulan Total biaya per hari 369,2 Prakarya dan Kewirausahaan 115 4. Total Biaya Total biaya adalah jumlah keseluruhan biaya tidak tetap dan biaya tetap. Pada proses produksi lidah buaya, total biaya yang dibutuhkan adalah Total biaya = Biaya variabel + Biaya tetap = Rp + Rp = Rp 5. Harga Pokok Produksi HPP Harga Pokok Produksi HPP adalah harga pokok dari suatu produk. Jika dijual dengan harga tersebut, produsen tidak untung dan juga tidak rugi. HPP ditentukan untuk bisa menentukan harga jual. Harga jual adalah HPP ditambah margin keuntungan yang akan diambil. Untuk produk lidah buaya ini, HPP-nya adalah Total Biaya Jumlah produksi Rp 1. 500 = Rp. 6. Harga Jual Harga jual adalah harga yang harus dibayarkan pembeli untuk mendapatkan produk tersebut. Harga jual bisa ditentukan dengan mempertimbangkan HPP dan juga produk pesaing. Harga jual ini meliputi harga dari pabrik dan harga konsumen. Harga dari pabrik tentu lebih murah karena saluran distribusi agen, toko, counter, dll tentu juga harus mendapatkan keuntungan. Pada produk lidah buaya dalam kemasan mangkok ini, melihat HPP-nya yaitu dan produk pesaing dengan volume yang relatif sama dijual berkisar sampai ditetapkan harga jual untuk minuman lidah buaya dari pabrik adalah Rp pada Tabel 4, dengan harapan di tingkat konsumen, harganya adalah Rp sampai Rp Tabel 4. Harga jual lidah buaya No. Satuan Harga satuan dalam ribu Rp 1 Mangkok 240 gram 4 2 Karton isi 12 mangkok 48 Semester 1 Kelas X SMAMASMKMAK 116 7. Penerimaan Kotor Penerimaan kotor adalah jumlah penerimaan uang yang didapatkan oleh perusahaan, sebelum dipotong total biaya. Pada produksi lidah buaya ini, jumlah penerimaan kotor pada Tabel 8. Tabel 8. Penerimaan Kotor Lidah Buaya Jenis Kemasan Jumlah cup Satuan Rp Total Rp Mangkok 240 g 500 Total Rp 8. Pendapatan Bersih Laba Pendapatan bersih adalah jumlah penerimaan uang yang didapatkan oleh perusahaan, setelah dipotong total biaya. Pada produksi lidah buaya ini, jumlah penerimaan bersih adalah Pendapatan Bersih = Penerimaan kotor – Total biaya = – = Jadi perkiraan pendapatan untuk satu kali produksi, yaitu sebanyak 500 mangkok lidah buaya, akan mendapatkan labakeuntungan sebesar Rp lima ratus Sembilan puluh satu ribu lima puluh rupiah. Membuat Perhitungan Biaya • Buat kelompok 5-8 orang. • Pilihlah satu jenis produk makanan awetan dari nabati yang akan dijadikan usaha kelompok kamu. • Buatlah perhitungan biaya lengkap untuk produk pilihan kelompokmu, untuk menemukan HPP dan menentukan harga jual. • Buat perhitungan biaya tersebut dalam bentuk laporan. Tugas 4 Prakarya dan Kewirausahaan 117 D. Pemasaran Langsung Makanan Awetan dari Bahan Nabati
Perhitungan biaya produksi makanan awetan dari bahan nabati pada dasarnya sama dengan cara biaya produksi lainnya. Biaya yang harus dihitung adalah biaya investasi, biaya tetap listrik, air, penyusutan alat/gedung, dll, serta biaya tidak tetap bahan baku, tenaga kerja dan overhead. Bahan baku dapat terdiri dari bahan baku utama dan bahan baku tambahan, serta bahan kemasa. Biaya bahan baku adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku. Biaya produksi termasuk biaya tenaga kerja. Jasa tenaga kerja ditetapkan sesuai keterampilan yang dimiliki pekerja dan sesuai kesepakatan antara pekerja dan pemilik usaha atau kesepakatan dalam kelompok kerja. Biaya produksi menentukan harga jual produk. Penentuan harga jual juga harus mempertimbangkan modal dan biaya yang sudah dikeluarkan untuk produksi. Pengolahan produk kesehatan membutuhkan peralatan dan mesin kerja. Biaya pembelian alat-alat kerja tersebut dihitung sebagai modal kerja. Biaya modal kerja ini akan terbayar dengan laba yang diperoleh dari hasil penjualan. Titik impas Break Even Point adalah seluruh biaya modal yang telah dikeluarkan sudah kembali. Setelah mencapat titik impas, sebuah usaha akan mulai dapat menghitung keuntungan penjualan. Harga jual produk adalah sejumlah harga yang dibebankan kepada konsumen yang dihitung dari biaya produksi dan biaya lain di luar produksi seperti biaya distribusi dan promosi. Biaya produksi adalah biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk terjadinya produksi barang. Unsur biaya produksi adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead. Secara umum biaya overhead dibedakan atas biaya overhead tetap, yaitu biaya overhead yang jumlahnya tidak berubah walaupun jumlah produksinya berubah dan biaya overhead variabel, yaitu biaya overhead yang jumlahnya berubah secara proporsional sesuai dengan perubahan jumlah produksi. Biaya yang termasuk ke dalam overhead adalah biaya listrik, bahan bakar minyak, dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan untuk mendukung proses produksi. Biaya pembelian bahan bakar minyak, sabun pembersih untuk membersihkan bahan baku, benang, jarum, lem dan bahan bahan lainnya dapat dimasukan ke dalam biaya overhead. Jumlah biaya-biaya yang dikeluarkan tersebut menjadi Harga Pokok Produksi HPP. Pada bahasan kali ini, akan dipaparkan contoh perhitungan harga untuk minuman lidah buaya. Diasumsikan dalam satu kali proses produksi akan diproduksi 500 mangkok lidah buaya, masing-masing berisi 240 gram lidah buaya buah dan kuah. Perhitungan biaya produksi meliputi biaya investasi, biaya tetap dan tidak tetap variabel untuk lidah buaya disajikan berikut ini. Hal ini untuk menjadi bahan pembelajaran jika akan membuat perencanaan kewirausaah jenis produk lainnya. 1. Investasi Alat dan Mesin Investasi alat dan mesin, yaitu pembelian perlengkapan alat dan mesin produksi yang dibutuhkan untuk proses produksi. Alat dan mesin produksi yang dibeli harus sesuai dengan kapasitas produksi, dan hal teknis lainnya, seperti ketersediaan daya listrik, dan lainnya. Pada proses produksi lidah buaya, alat dan mesin yang dibutuhkan pada Tabel Berikut. Investasi Alat dan Mesin 2. Biaya Tidak tetap Variabel Lidah Buaya Biaya tidak tetap adalah biaya yang dikeluarkan sesuai dengan jumlah produksi. Jadi, sifatnya tidak tetap, bisa berubah sesuai jumlah produksinya. Biaya tidak tetap ini, biasanya meliputi biaya bahan baku, bahan pembantu dan bahan kemasan. Pada proses produksi minuman lidah buaya, kebutuhan bahan baku pada Tabel. Biaya Tidak tetap Variabel 3. Biaya Tetap Lidah Buaya Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan yang jumlahnya tetap setiap bulannya, berapa pun jumlah produksinya. Biaya tetap meliputi biaya tenaga kerja, listrik/air, gas, penyusutan alat, dan lainnya. Pada produk lidah buaya, biaya tetap yang dibutuhkan tersaji pada Tabel. Biaya Tetap Lidah Buaya 4. Total Biaya Lidah Buaya Total biaya adalah jumlah keseluruhan biaya tidak tetap dan biaya tetap. Pada proses produksi lidah buaya, total biaya yang dibutuhkan adalah 5. Harga Pokok Produksi HPP Harga Pokok Produksi HPP adalah harga pokok dari suatu produk. Jika dijual dengan harga tersebut, produsen tidak untung dan juga tidak rugi. HPP ditentukan untuk bisa menentukan harga jual. Harga jual adalah HPP ditambah margin keuntungan yang akan diambil. Untuk produk lidah buaya ini, HPP-nya adalah Total Biaya I Jumlah produksi Rp 1. I 500 = Rp. 6. Harga Jual Harga jual adalah harga yang harus dibayarkan pembeli untuk mendapatkan produk tersebut. Harga jual bisa ditentukan dengan mempertimbangkan HPP dan juga produk pesaing. Harga jual ini meliputi harga dari pabrik dan harga konsumen. Harga dari pabrik tentu lebih mu rah karena saluran distribusi agen, toko, counter, dll tentu juga harus mendapatkan keuntungan. Pada produk-lidah-buaya dalam kemasan mangkok ini, melihat HPP-nya yaitu dan produk pesaing dengan volume yang relatif sama dijual berkisar sampai Rp?.000,-, ditetapkan harga jual untuk minuman lidah buaya dari pabrik adalah Rp pada Tabel 4, dengan harapan di tingkat konsumen, harganya adalah Rp sampai Rp Harga Jual 7. Penerimaan Kotor Penerimaan kotor adalah jumlah penerimaan uang yang didapatkan oleh perusahaan, sebelum dipotong total biaya. Pada produksi lidah buaya ini, jumlah penerimaan kotor pada Tabel Penerimaan Kotor 8. Pendapatan Bersih Laba Pendapatan bersih adalah jumlah penerimaan uang yang didapatkan oleh perusahaan, setelah dipotong total biaya. Pada produksi lidah buaya ini, jumlah penerimaan bersih adalah Pendapatan Bersih = Penerimaan kotor - Total biaya = - Rp = Jadi perkiraan pendapatan untuk satu kali produksi, yaitu sebanyak 500 mangkok lidah buaya, akan mendapatkan laba/keuntungan sebesar Rp lima ratus Sembilan puluh satu ribu lima puluh rupiah.
perhitungan biaya makanan awetan dari bahan nabati